PEKANBARU – Plt Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Riau, Adrias Hariyanto, menyampaikan kebanggaannya terhadap penyelenggaraan Riau Berkain 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Riau sebagai upaya memperkenalkan sekaligus mengembangkan potensi wastra dan tekstil daerah. Menurutnya, Riau Berkain menjadi ruang untuk menunjukkan jati diri masyarakat melalui kekayaan kain tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
“Saya sangat bangga karena Riau Berkain menunjukkan identitas kita. Kita tidak lari dari budaya kita, apalagi ibu-ibu memang identik dengan berkain,” ujar Adrias di Hotel Grand Elite, Sabtu (7/11).
Bagi Adrias, mengenakan kain tradisional bukan hanya tentang mengikuti tren berpakaian, tetapi juga menjadi bentuk nyata kecintaan terhadap kebudayaan sendiri. Ia berharap kebiasaan berkain dapat terus tumbuh di tengah masyarakat sehingga wastra Melayu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Adrias turut menyampaikan apresiasi kepada API Riau dan seluruh pihak yang telah berkolaborasi menghadirkan Riau Berkain 2026. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi wadah yang mempertemukan berbagai elemen untuk mengembangkan potensi industri tekstil serta wastra di Riau.
“Saya senang ini terus berkembang dan menyatukan semuanya dalam satu ruang untuk berkolaborasi. Di balik selembar kain, terdapat ketekunan dan budaya yang harus kita jaga,” ungkapnya.
Ia mengatakan, Riau memiliki kekayaan wastra yang beragam dengan karakter motif dan nilai budaya yang khas. Ditambah kehadiran para desainer yang terus berinovasi, potensi tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan untuk mendorong perkembangan industri fesyen daerah.
Adrias juga menyoroti pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi yang mencapai 10,55 persen pada 2025 menurut data BPS. Capaian tersebut, dikatakannya adalah hal yang patut dibanggakan untuk terus mengembangkan sektor tekstil, termasuk membuka peluang yang lebih luas bagi produk wastra tenun melalui peran Dekranasda.
Meski memiliki beragam kekuatan, Adrias mengingatkan bahwa pengembangan wastra Riau masih membutuhkan keterhubungan antara berbagai pihak. Mulai dari kekayaan motif, kreativitas desainer, hingga dukungan dunia industri perlu berjalan beriringan agar produk lokal mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Riau banyak memiliki kekuatan, dari motif, kreativitas, dan dukungan dunia industri. Tantangannya bagaimana semua terhubung dan mampu menjangkau pasar lebih luas,” katanya.
Bagi Adrias, upaya menjaga warisan budaya pada akhirnya harus dimulai dari kebiasaan sederhana, yakni mengenakan dan memperkenalkan kain tradisional kepada lingkungan sekitar. Melalui Riau Berkain 2026, ia berharap kecintaan masyarakat terhadap wastra semakin tumbuh sehingga identitas dan warisan budaya Melayu Riau tetap terjaga serta terus berkembang mengikuti zaman.
“Mari membiasakan diri mengenakan dan mengenalkan kebudayaan daerah. Kita ingin warisan budaya Melayu tetap terjaga,” ajaknya.










