Liputankepri.com,Batam – Puluhan mahasiswa menggelar unjuk rasa di depan Kantor DPRD Kota Batam dan Kantor Wali Kota Batam, Selasa (5/3). Mereka menuntut agar Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam Jefridin dipecat.
Aksi unjuk rasa berlangsung panas. Pihak keamanan terpancing dengan aksi nekat mahasiswa yang memaksa masuk ke dalam Gedung DPRD Batam. Aksi saling dorong antara pihak keamanan dan mahasiswa pun tak terhindarkan. Beberapa mahasiswa bahkan terjatuh dan ada yang mengerang kesakitan terkena pukulan aparat keamanan.
Ketegangan mereda setelah Wakil Ketua DPRD Kota Batam Zainal Abidin bersedia menemui pengunjuk rasa. Zainal menuturkan, pihaknya akan menyampaikan tuntutan mahasiswa kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Batam.
Namun kapan tuntutan akan disampaikan, masih menunggu rapat dengan pimpinan DPRD yang lain. “Kami akan melakukan rapat dengan pimpinan terkait tuntutan ini. Setelah itu, akan kami sampaikan. Kami tidak bisa langsung bertindak,” kata Zainal.
Dari Gedung DPRD, para mahasiswa bergeser ke depan Kantor Wali Kota Batam. Mereka membawa replika keranda dan mayat. Tuntutan pencopotan Sekda Batam juga terus disuarakan. Adapun tuntutan itu sebagai buntut atas tindakan Jefridin yang mengeluarkan surat kepada seluruh ASN di lingkup Pemkot Batam untuk membantu Abdul Samad, terpidana korupsi dana Bansos guru TPQ di Batam pada 2011.
Aksi mahasiswa kembali memancing amarah petugas. Satu dari sekian banyak mahasiswa yang menjadi pembakar keranda dan mayat bahkan harus diamankan aparat keamanan. Ditahannya satu mahasiswa kembali memancing aksi saling dorong. Mahasiswa terus meminta agar pihak keamanan melepaskan temannya yang ditahan tersebut.
“Kami bisa jaga kawan kami. Lepaskan kawan kami. Lepaskan kawan kami,” teriak para mahasiswa sembari bergerak mencoba menembus hadangan aparat keamanan.
Kapolsek Batam Kota AKP Ricky Firmansyah yang berada di tengah-tengah para mahasiswa terus berupaya menenangkan keadaan. Ia terus mengingatkan agar semua anggota polisi yang berjaga tidak emosi dan terpancing. Begitu juga kepada mahasiswa. Ricky sudah memberi arahan agar tidak ada aktivitas membakar keranda. Hal itu sudah ia sampaikan berulang kali.
Terhadap salah satu mahasiswa yang ditahan, Ricky menjelaskan bahwa pihaknya menjamin tidak akan terjadi apa-apa. Ia hanya meminta penjelasan atas aksi nekatnya membakar keranda. Padahal sebelumnya sudah diingatkan untuk tidak melakukan hal tersebut.
“Anggota (aparat keamanan) tidak boleh emosi. Kalau mau pukul, pukul saya. Jangan apa-apakan mahasiswa,” perintah Ricky ketika menenangkan anggotanya.
Sementara itu, Jefridin yang menjadi sasaran aksi mahasiswa tidak terlihat hadir menemui pengunjuk rasa. Demikian juga dengan perwakilan pejabat dari Pemkot Batam yang tidak terlihat menemui pengunjuk rasa.
Mahasiswa akhirnya membubarkan diri setelah teman mereka dilepaskan. Namun demikian, mereka akan melakukan aksi lanjutan sampai ada tanggapan dari Pemkot Batam atas tindakan Jefridin yang dinilai menyalahi aturan.
“Kami tidak akan berhenti. Kami akan datang menuntut pertanggungjawaban Sekda Batam. Kami datang dengan jumlah yang lebih banyak,” kata Koordinator Aksi Ibrahim Harahap mengakhiri aksi unjuk rasa.***
(red/jpc)










