class="wp-singular post-template-default single single-post postid-6208 single-format-standard wp-custom-logo wp-theme-detak-terkini unselectable">

Home / Pendidikan

Sabtu, 1 April 2017 - 22:22 WIB

Mengapa Ular Piton Menelan Manusia? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Liputankepri.com, Mamuju – Dunia dikejutkan dengan insidenĀ ular piton yang menelan manusia dewasa berusia 25 tahun. Insiden ini terjadi di Provinsi Sulawesi Barat, Indonesia pada 26 Maret 2017.

Sangat mengejutkan hingga muncul banyak pertanyaan tentang insiden itu.Ā Bagaimana bisa?

Ā Pertama-tama, adalah sebuah fakta ilmiah bahwa ular piton dapat tumbuh sepanjang 7 meter. Hal ini merupakan fenomena wajar untuk jenis ular pelilit seperti piton.

Panjang ukuran tubuh berkorelasi dengan kekuatan daya lilitan seekor ular. Semakin panjang ukurannya, akan semakin kuat daya lilitan piton terhadap mangsanya.

Piton Sulawesi Barat berukuran 14,85 meter, sehingga masuk akal ia mampu melilit manusia dewasa. Namun, komunitas akademik masih tak percaya piton mampu menelan manusia.

Untuk menelan manusia ke dalam perutnya, ular piton harus mampu menghancurkan terlebih dahulu tulang belikat manusia.

“Ular piton memang eksklusif mengonsumsi mamalia, dan terkadang reptil seperti buaya,” tambah Low.

Ular mampu menelan mangsa yang lebih besar seiring dengan pertumbuhan tubuhnya. “Semakin besar tubuhnya, semakin besar mangsanya,” imbuh Low.

Pada beberapa kasus, ular piton turut memangsa hewan dengan ukuran dua kali lipat lebih besar dari ukuran tubuhnya.

Sapi atau babi adalah salah satu contoh hewan besar yang mampu ditelan ular piton. Namun, menelan manusia bukan kebiasaan hewan melata tersebut.

Kasus di Sulawesi Barat Jadi yang Pertama?

Hanya kasus-kasus tertentu ular menelan manusia, itu pun bukan ular besar dengan mangsa besar pula seperti di Sulawesi Barat. Lalu, apakah insiden Sulawesi Barat adalah yang pertama?

Bisa ya, bisa tidak.

Kasus di Sulawesi Barat mungkin menjadi yang pertama di dunia dengan bukti dokumentasi visual yang sangat riil dan terverifikasi. Pada era digital, semua orang mampu dengan mudah mendokumentasikan kejadian dan menyebarluaskannya di dunia maya serta media sosial.

Tapi itu bukan kasus pertamaĀ dalam sejarah manusia.

HasilĀ penelitian Thomas Headland, Antropolog kawakan, menjelaskan bahwa Suku Agta–sebuah suku etnik di pedalaman Filipina–mengklaim anggota sukunya kerap kali diserang ular piton.

Namun di peradaban modern, insiden tersebut sangat jarang terjadi. Jika ada, insiden itu dapat dikategorikan sebagai bentukĀ pertahanan diri si piton.

Ahli ular dari Universitas Brawijaya, Indonesia, Nia Kurniawan menjelaskan kepadaĀ BBCĀ bahwa ular piton sangat sensitif pada getaran, suara, dan panas yang dipancarkan dari lampu.

Tiga aspek itu yang membuat biasanya ular menjauhi lokasi yang ditempati manusia. Namun,Ā ular punya daya ingat yang baik terhadap lokasi berburunya.

“Mungkin saja korban naas berada di wilayah berburu ular piton itu,” ujar Nia Kurniawan kepadaĀ BBC.

 

 

Source:Liputan6.com

Share :

Baca Juga

Kep Meranti

SD Negeri 16 Banglas Barat Laksanakan Sosialisasi

Karimun

Dandim 0317/ TBK Haramkan Seluruh Anggota dan Keluarganya Terlibat Narkoba

Ekonomi

Pesta Rakyat Tasik Air Putih Di Rangsang Berlangsung Meriah, Wisatawan Dari Malaysia Turut Hadir

Kep Meranti

Bupati Hadiri Grand Final Bujang & Dara 2017

Karimun

Sekda Pimpin Upacara Hari Otonomi Daerah Ke-XXI

Karimun

Bupati Karimun Lepas 60 Orang KKN Mahasiswa Universitas UMRAH

Featured

Jodhi: Beredarnya Berita Hoax Lantaran Adannya Ketidak Percayaan Masyarakat Terhadap Media Saat Ini

Kep Meranti

Psstt Bakal Ada Aksi 142 Di Glora “Pemkab Di Nilai Telah Menzolimi Mahasiswa Meranti”
error: Content is protected !!