Saya menghadiri acara pembukaan Labuan Maritim Festival malam ini. Antusias masyakarat yang menonton festival ini tampak sepi. Apakah ini karena kurangnya promosi atau karena terkesan festival ini dibuat dadakan tanpa perencanaan yang matang?
Sebagai ketua Komunitas Lawyers, beberapa catatan kritis yang ingin saya utarakan ke publik.
Pertama, Festival ini diselenggarakan oleh BPOLBF dibawah pimpinan Shana Fatimah. Festival ini tentu secara kelembagaan memiliki tujuan. Tetapi tampaknya tujuannya tidak menyentuh kebutuhan pariwisata. Karena hanya terkesan seperti hiburan atau pesta.
Kedua, patut saya duga festival yang dibuat merupakan bagian dari strategi menghabiskan anggaran di tahun 2022 untuk pemenuhan laporan akhir tahun. Enak benar ya? Padahal hemat saya, jika kegiatan ini di konversi untuk kegiatan membantu masyakarat miskin tampak berguna dan bermanfaat.
Ketiga, secara hukum, tentu dugaan yang saya utarakan ini mesti menjadi pintu masuk KPK untuk mengaudit lembaga BPOPLBF dalam penggunaan anggaran negara. Tidak ada lembaga/oknum yang yang kebal hukum di Republik ini.
Sayapun diundang oleh Ibu Shana Fatimah melalui WA untuk perkenalkan dengan komunitas yang ikut memeriahkan acara ini. Jujur saya tidak menemukan acara perkenalan itu. Hadir menonton festival musik sama kayak saya ke Paradise Cafe. Biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Sial apa Bro..aku kena jebakan bedman. haha.
Sudahlah, sebagai masyarakat yang tidak punya kuasa, saya hadir untuk mengamati festival ini sambil menggelengkan kepala saya. Kenapa ya Labuan Bajo ini di bawah genggaman pusat? Seenaknya ngatur daerah seenak udelnya. Disini mereka kumpul duit, di tempat lain mereka hidup mewah. Sedih..kita-kita jadi kuli di tanah sendiri.
Lawan..
Lawan..










