Karimun – Isu peredaran beras oplosan dan melonjaknya harga pangan memicu sorotan terhadap kinerja Satgas Pangan. Masyarakat mendesak satuan tugas tersebut bertindak lebih tegas dan optimal dalam menjalankan fungsinya.
Dugaan praktik pengoplosan dan distribusi beras ilegal dalam skala besar kembali mencuat di Baran Barat Kecamatan Meral.
Aktivitas mencurigakan terpantau di sebuah gudang beras milik AC di Kelurahan Baran Barat, di mana truk-truk lori terlihat hilir-mudik membawa beras yang diduga telah diganti kemasannya dengan merek berbeda.
Meski aktivitas ini berlangsung terang-terangan, hingga kini belum terlihat adanya tindakan dari aparat maupun instansi terkait.
Kejanggalan muncul ketika beras yang keluar dari gudang diduga telah berganti merek dibanding saat masuk, memperkuat dugaan adanya praktik pengoplosan dan repackaging beras tanpa izin.
Informasi yang beredar diketahui gudang milik AC yang berada tidak jauh dari kantor Lurah Baran Barat tersebut diketahui penyimpanan beras tanpa plang nama dan tertutup.
“Iya, setahu saya gudang itu gudang beras. Tapi asal berasnya dari mana, saya tidak tahu,” ujarnya singkat.
Secara terpisah, salah seorang ibu rumah tangga ketika dikonfirmasi disalah satu minimarket yang enggan disebutkan namanya mengeluhkan rasa dan kualitas beras yang tidak konsisten meski menggunakan merek yang sama sering terjadi.
“Saya curiga beras merek yang sama saya makan, rasanya beda dan bahkan kalau dimasak kayak bubur lembek,” ujarnya.
Secara terpisah AC ketika dikonfirmasi via WhatsApp membantah informasi yang beredar terkait aktifitas pengoplosan beras di gudang miliknya.
“Itu tidak benar, gudang kami tidak ada oplos beras, malah di gudang tidak ada orang,” kilahnya, Kamis (25/6/2026).
Satgas pangan diminta lebih sigap dalam pengawasan dan distribusi pangan karena tanpa tindakan konkret dan tegas, masyarakat akan terus menjadi korban dari sistem distribusi yang lemah dan manipulatif.***










