Oleh : Layla Tussaidah,S.Pd
Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 2 Meral Barat
Pandemic seperti saat ini, Seringkali melihat banyak hal yang tidak terlaksana dengan maksimal. Terutama bagi para pendidik, dimana dituntut agar perencanaan pembelajaran terlaksana dengan maksimal. Namun dimasa pandemic seperti sekarang ini terdapat banyak kendala.
Terutama dibidang menulis. Siswa sangat tidak termotivasi dalam menulis. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan menulis merupakan kebutuhan setiap individu. Oleh karena itu, untuk dapat hidup di masyarakat dalam era teknologi modern ini setiap orang haruslah tidak buta huruf.
Seseorang yang tidak mempunyai kemampuan dalam membaca maupun menulis akan mengalami banyak hambatan dalam menjalani kehidupan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa menulis bukanlah pekerjaan mudah apalagi dalam Bahasa Inggris bagi kebanyakan orang, teristimewa bagi siswa. Selain sulit, pelajaran ini juga membosankan karena begitu banyak aspek yang harus dikuasai.
Keterampilan menulis dalam Bahasa Inggris tidak hanya menuntut penguasaan vocabularies yang memadai, tetapi juga structure dan grammar yang tepat. Hal-hal tersebut di ataslah yang membuat siswa tidak menyukai pelajaran menulis dalam Bahasa Inggris dan hingga saat ini, menulis masih menjadi keterampilan yang paling sulit ditaklukan dibanding listening dan speaking.
Pendapat awam juga mengatakan bahwa hal wajar bagi para pembelajar Bahasa Inggris pemula tidak mampu menulis dalam Bahasa Inggris mengingat Bahasa Inggris bukan bahasa utama di Indonesia. Tentu saja pendapat ini salah kaprah dan tidak dapat dijadikan pembenaran untuk tidak dapat menulis dalam Bahasa Inggris.
Jika kondisi semacam ini terus berlangsung maka konsep kurikulum tiga belas hanya indah dalam tataran konsep dan guru dianggap gagal mendidik siswa menguasai mata pelajaran yang satu ini. Terbayanglah betapa beratnya kompetisi global kelak yang harus dihadapi anak-anak tanpa kemampuan menulis dalam Bahasa Inggris yang memadai.
Betapapun demikian sejatinya tengah terjadi masa kontradiktif di kalangan siswa yang masuk dalam kategori generasi milenial ini. Mereka yang terlahir di era digital dengan kemudahan informasi luar biasa, begitu akrab dengan Bahasa Inggris. Ya.
Bahasa Inggris sesungguhya bertebaran di mana-mana terutama di media sosial yang menjadi gaya hidup sehari-hari anak-anak, tetapi menjadi persoalan berbeda ketika mereka harus mengaplikasikan Bahasa Inggris dalam bentuk tulisan.
Hal inipun tak luput dialami oleh peserta didik SMP Negeri 2 Meral Barat, khususnya kelas VIII. Mereka sangat terampil dalam menggunakan media sosial dengan Bahasa Inggris gaul tapi tetiba menjadi gagap tatkala mengaplikasikan Bahasa Inggris dalam tulisan.
Jangankan membuat sebuah cerita yang menarik, menyusun kalimat sederhana untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benak mereka saja pada praktiknya sulit. Itulah keluhan para siswa setiap menghadapi materi pelajaran menulis dalam Bahasa Inggris.
Belum lagi jika dihadapkan pada situasi Kegiatan Belajar Mengajar gaya ceramah, monoton, dan konvensional. Siswa mudah sekali bosan, sibuk sendiri bahkan ada yang tidur di kelas. Tujuan pembelajaranpun tidak tercapai. Masih terdapat keunikan satu hal lagi di kelas VIII ini, komposisi antara siswa yang pintar, sedang dan rendah sangat tampak.
Indikasi ini muncul dengan jelas ketika KBM dilaksanakan. Suasana kelas menjadi tidak kondusif ketika anak yang sangat pintar mendominasi semua pertanyaan guru yang membuat siswa lain merasa diabaikan.
Lantas bagaimana ? Pada kondisi nyata seperti itulah Guru dituntut untuk kontemplasi dan evaluasi diri apa yang hendak dilakukan menghadapi persoalan demikian.
Komposisi kelas yang sangat heterogen dan tidak mampu menguasai materi dengan baik ? Sebagai insan pendidik, Guru tidak boleh lupa bahwa kabar baik dari implementasi Kurikulum Tiga Belas, siswa menjadi pusat ajar guru. Hal inilah yang memungkinkan diaplikasikannya model belajar menggunakan Pendekatan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) sebagai solusi hambatan pembelajaran jarak jauh.Yang pertama kali dikenalkan oleh Shulman pada tahun 1986.
Penulis telah merangkum beberapa kegiatan terbaru dimasa pandemic ini guna meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Meral Barat. Yaitu menggunakan aplikasi Canva. Aplikasi Canva ini mulai dikenal di kalangan pendidik sejak terjadinya masa pandemic di Indonesia tepatnya tahun 2020.
Dalam penggunaan aplikasi Canva ini pendidik bisa memaksimalkan kegiatan belajar jarak jauh atau Daring dengan memfokuskan kegiatan menulis siswa 1) Siswa belajar dari rumah atau dikenal dengan metode Daring secara kolaboratif dan mandiri untuk menuntaskan materi belajarnya, 2) Siswa diberi sebuah LKPD dari aplikasi Canva tersebut 3) Guru memberikan materi teks dengan thema yang menarik kepada siswa 4) sebagai contoh siswa diberikan materi teks pembelajaran Bahasa inggris; Recount text, dimana mereka menceritakan pengalaman pribadi dimasa lampau 5) Siswa diberikan kebebasan dalam mengedit LKPD dengan menggunakan Aplikasi Canva tersebut 6) Penghargaan lebih berorientasi pada siswa yang membuat karya tulisan menarik dan ketelitian dalam penggunaan vocabularies.
Dengan Aplikasi Canva inilah siswa dapat mendengarkan apa yang diutarakan oleh temannya mengenai pengalaman dimasa lampau yang telah dialami temannya, Siswa tersebut akan menyimak apa yang diutarakan oleh anggota kelompok tersebut. Dalam proses ini, akan terjadi kegiatan menulis yang mengasyikkan.
Siswa saling bertanya dan menjawab tentang pengalaman mereka dimasa lampau. Penggunaan Aplikasi Canva mengkondisikan siswa untuk aktif, baik berdiskusi, tanya jawab, mencari penggunaan vocabularies yang tepat dengan waktu yang digunakan yaitu masa lampau, menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman.
Pembagian kerja kelompok tercipta, sehingga mereka berkolaborasi menulis dengan suasana yang menyenangkan. Kondisi membosankan pun teratasi. Walaupun hanya bisa dilakukan melalui Aplikasi Whatsapp grup atau pribadi namun siswa akan sangat termotivasi untuk saling bertanya dan menjawab.
Karena kegiatan setelahnya yaitu mereka akan membuat / menulis resume diaplikasi Canva tersebut. Mereka akan berusaha semaksimal mungkin dalam menulis Bahasa Inggris. Kemudian pendidik bisa lebih mengoptimalkan kegiatan menulis dengan meminta siswa memposting hasil karya tulisan mereka di social media yang mereka miliki bahkan di media social sekolah seperti Facebook, Instagram dan Website sekolah.
Ini merupakan penghargaan yang sangat bisa dilakukan bagi para pendidik dimasa pembelajaran jarak jauh. Dengan demikian, hakekat menguasai empat aspek (membaca, berbicara, menulis dan menyimak) dalam belajar bahasa tanpa disadari tercapai secara bersamaan, dan tujuan utama pelajaran menulis menjadi aktifitas menyenangkan.
Bahkan untuk menulis teks Bahasa Inggris jenis apapun dimasa Pandemic seperti sekarang ini. Ini merupakan salah satu pendekatan TPACK yang bisa digunakan bagi para pendidik yang masih kesulitan dalam memaksimalkan siswa untuk menulis dalam Bahasa Inggris dalam proses pembelajaran Daring / PJJ.***








