banner 200x200

Home / Anambas / Featured

Jumat, 2 September 2016 - 14:59 WIB

Arcandra Dipecat, Luhut Tawarkan Pengelolaan Migas Natuna ke Malaysia

“Saat ini konsesi Block East Natuna dimiliki konsorsium yang beranggotakan Pertamina, PTT Thailand, dan ExxonMobil. Dirut Pertamina Dwi Soetjipto beberapa waktu lalu memastikan tidak ada investor baru yang masuk. Dalam waktu dekat, BUMN energi tersebut juga menandatangani kontrak bagi hasil dengan insentif khusus yang dijanjikan Kementerian ESDM.

 

Liputankepri.com,Natunai –Pemerintah belum memiliki Menteri Energi dan Sumber Daya Energi (ESDM) yang definitif setelah Arcandra Tahar dipecat. Meski demikian, Kementerian ESDM sudah menawarkan pengelolaan potensi migas di Natuna pada Petronas, perusahaan asal Malaysia.

Kementerian ESDM menawarkan pengelolaan potensi migas kawasan Natuna di Laut Cina Selatan kepada Petroliam Nasional Berhad (Petronas). Untuk memancing minat perusahaan pelat merah Malaysia itu, pemerintah menawarkan perubahan pola bagi hasil migas.

Plt Menteri ESDM Luhut Binsar Pandjaitan mengakui sudah membicarakan hal tersebut dengan pemerintah Malaysia. Dia berharap Petronas menggarap blok yang memiliki cadangan gas sangat besar itu bersama Pertamina.

Cadangan terbukti gas bumi di kawasan Natuna diperkirakan mencapai 46 triliun kaki kubik. Namun, pengembangannya butuh teknologi dan investasi yang tidak sedikit. Sebab, gas buminya mengandung 70 persen karbondioksida.

Nah, dalam pembicaraan bilateral di Putrajaya, Malaysia, Petronas memiliki teknologi yang dibutuhkan untuk menggarap Natuna. Sebagai kompensasi masuknya Petronas ke Natuna, Pertamina akan dilibatkan dalam pengelolaan potensi migas di Malaysia. ’’Nanti dicarikan blok yang tepat,’’ imbuh Luhut.

Saat ini konsesi Block East Natuna dimiliki konsorsium yang beranggotakan Pertamina, PTT Thailand, dan ExxonMobil. Dirut Pertamina Dwi Soetjipto beberapa waktu lalu memastikan tidak ada investor baru yang masuk. Dalam waktu dekat, BUMN energi tersebut juga menandatangani kontrak bagi hasil dengan insentif khusus yang dijanjikan Kementerian ESDM.

Luhut mengakui, insentif khusus sangat penting karena pada 2012 Petronas mengundurkan diri dari konsorsium penggarap Natuna. Alasannya, mereka tidak cocok dengan bagi hasil yang ditawarkan pemerintah sesuai PP Nomor 79 Tahun 2010. ’’Saya katakan itu akan diubah dan mereka tertarik,’’ ucapnya.

Secara terpisah, proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) milik Chevron Indonesia di Kalimantan Timur mulai memberikan hasil. Kemarin Chevron memproduksi gas alam pertama dari Lapangan Bangka. Kapasitas terpasang lapangan tersebut mencapai 110 juta kaki kubik gas dan 4 ribu barel kondensat per hari.

Managing Director Chevron IndoAsia Business Unit Chuck Taylor menyatakan, capaian itu penting karena perusahaan yang berpusat di San Ramon tersebut mengaplikasikan berbagai teknologi terbaru. Dalam proyek itu, Chevron memegang 62 persen saham kepemilikan. Mitranya adalah ENI, 20 persen, dan Tip Top, 18 persen. Chevron telah memulai pengeboran pada semester kedua 2014. (jpgrup)

Share :

Baca Juga

Featured

Rustam: Vaksin MR Sangat Penting Bagi Tumbuh Kembang Anak

Featured

Dua Pelaku Curas di bekuk Tim Opsnal Polsek Tualang

Featured

KPK Selidiki Suap Pejabat Bea Cukai Terkait Penyelundupan Daging

Anambas

Kapal Nelayan Asal Palmatak Tenggelam

Featured

Bupati Karimun Silaturahmi Bersama Masyarakat Moro

Featured

Berbekal Pinjaman Modal dari PT Timah Tbk, Kamarudin Bisa Tambah Alat Tangkap dan Kembangkan Usaha Kue Istri 

Featured

Ketua Umum (Lugas) Zuhdie : Gubernur Kepri Dan Dinas Pendidikan Provinsi Kepri Turut Serta Menciptakan Generasi Yang Aktif dan Sehat

Batam

Kepri Kembangkan Sektor Pariwisata Transaksi Nontunai