class="post-template-default single single-post postid-1856 single-format-standard wp-custom-logo elementor-default elementor-kit-37444">

banner 200x200

Home / Featured / Nasional

Minggu, 2 Oktober 2016 - 10:07 WIB

Seks Bebas dan Gaji Minim, Sisi Gelap Pekerja Kapal Pesiar Mewah

“Aku pikir rasio karyawan laki dan perempuan itu 9:1. Jadi, tiap ada pekerja perempuan baru di kapal, di malam pertama di bar untuk para kru ia membayari kami semua. Dan tak ada satupun kru yang setia satu sama lain,”

 

Liputankepri.com – Banyak orang menyangka bekerja di kapal pesiar mewah berarti keliling dunia gratis, gaji besar, makan terjamin dan segala fasilitas segala ada.

Namun, seorang pria bernama Blake, secara blak-blakan membongkar kehidupan yang sesungguhnya terjadi di atas laut.

“Kapal adalah tempat perzinahan yang paling menjijikkan yang pernah aku rasakan sepanjang karier pekerjaanku,” tutur Blake seperti dilansir News.com.au.

Sementara para tamu menikmati cahaya matahari yang bersinar hangat di atas dek, Blake mendeskripsikan sisi gelap di bawah dek. Yakni, bayaran yang minim, kamar kru kapal pesiar  yang sempit serta seks bebas.

“Aku pikir rasio karyawan laki dan perempuan itu 9:1. Jadi, tiap ada pekerja perempuan baru di kapal, di malam pertama di bar untuk para kru ia membayari kami semua. Dan tak ada satupun kru yang setia satu sama lain,” ujar Blake.

Klaim seperti itu ternyata tak diungkapkan oleh Blake semata. Rupanya sudah mendarah daging bagi para pekerja kapal siar.

Warga asal Queensland, Australia, Cathryn Chapman, pernah bekerja di kapal pesiar di Karibia dan Bahama di usia 20 hingga 30 tahun. Ia menulis pengalamannya dalam buku berjudul Sex, Lies and Cruising.

“Hal yang paling aku tidak suka adalah bohong dan selingkuh,” kata Chapman.

“Pria memiliki anak dan istri di rumah, tapi punya pacar di kapal. Ketika sang istri ke kapal untuk liburan, pacarnya keluar dari kamar si pria selama ada istrinya dan pura-pura tak ada masalah,” bebernya.

“Pun tak ada yang membocorkan rahasia kotor itu. Di malam ketika sang istri kembali ke rumah, si pacar balik lagi ke kamarnya seakan tak pernah terjadi apapun. Para pria berpura-pura istri mereka tak ada, sampai mereka tiba,” tambahnya.

Ternyata, tak hanya seks yang penuh intrik di bawah dek kapal pesiar itu.

Blake mengatakan ia bekerja di butik mewah dalam kapal itu di mana ia melayani “para orang kaya yang tak punya kapal pesiar sendiri.”

“Di kelas bisnis, tamu-tamu yang hadir adalah mereka yang telah menabung selama sisa hidupnya untuk berpesiar. Selama ada makanan dan disajikan tepat waktu mereka sudah senang,” katanya. “Sementara orang kaya, mereka bisa jadi orang yang mengesalkan.”

Blake memberi contoh tentang sebuah insiden tatkala seorang perempuan menjatuhkan tak sengaja semangkuk seafood. Membuat Blake rugi ratusan dolar.

Seorang pria mendekati Blake dan menyenggolnya seraya berkata, “lihat, aku akan membuat cewek sialan itu nangis.”

Benar, kata Blake, laki-laki itu memaki dengan serangkaian kata kasar kepada sesama tamu.

Sementara para tamu tidur di tempat yang mewah dan luas, para staf tidur di ruangan yang lebih kecil dan berbagi dengan 2 orang kru.

Menurut Blake, satu-satunya cara agar mendapat tempat lega adalah lipat baju dan barang-barang lalu  simpan di loker.

Namun, yang paling mengagetkan adalah pembayaran. Blake mengklaim ia mendapat gaji US$ 950 dan para pelayan mendapat bayaran US$ 200 per bulannya. Mereka mengharap tip dari para tamu.

Blake bukan satu-satunya kru yang kecewa dengan kehidupan di kapal pesiar. Brian David Burns bekas staf juga mengungkapkan perasaan yang sama.

Menurut Burns, tamu tajir justru paling mengesalkan. Apalagi kalau mabuk. “Di restoran, kami menjuluki para tamu ‘sapi’. Masuk akal karena mereka besar, lembut dan mengunyah sepanjang hari,” ujar Burns.

Burns mengklaim bekerja 100 jam per minggu untuk 15 minggu. Dan bayaran tidak tergantung berdasarkan jam kerja.

“Berlayar di atas perairan internasional justru membuat kapal pesiar melanggar undang-undang buruh yang ditemukan di negara-negara maju,” tutur Burns.

Pria itu mengidentifikasikan kru sama dengan pekerja kelas kambing.

Namun pengakuan para mantan kru dibantah. Kapal pesiar Carnival mengatakan industri mereka justru memprioritaskan kesejahteraan para pekerjanya.

“Perusahaan menerapkan aturan sesuai kewajiban yang diatur oleh peraturan. Dan secara teratur kami diinspeksi oleh badan industri pelayaran dari Eropa maupun internasional.”

Sementara itu, perusahaan yang berkantor di Florida AS mengatakan, mereka menggaji kru lebih dari layak.

“Termasuk penyediaan kamar gratis dan mendapat perawatan medis yang eksklusif jika mereka sakit.”

Share :

Baca Juga

Featured

Diduga Stress,Pria Ini Gantung Diri
Suwandi warga tempatan menceritakan kisahnya saat bersama Satgas TMMD Kodim 0317/Tbk,Kamis (05/4/2018)

Featured

Cerita Warga yang Akhirnya Menjadi Kenyataan,Dengan Kehadiran TMMD

Ekonomi

Pulau Telunas Resort dan Kapal Keruk PT Timah Kundur Menjadi Target Timpora

Ekonomi

Kades Alah Air Berharap Segera Bangunkan,Jalan Alternatif Bagi Masyarakat Desa Alah Air

Featured

Ketua DPW LMB Kepri Berikan Apresiasi Pengungkapan Kasus Dugaan Korupsi Di Tanjungbatu

Featured

Wabup Karimun Meresmikan Lomba Jong di Pantai Pongkar

Featured

Muhammad Tahar: 18 ribu Warga Karimun Yang Belum Melakukan Perekaman e-KTP

Ekonomi

Bahas Kenaikan Harga Tiket, Komisi II DPRD Meranti Hearing Dengan Pengusaha Kapal dan Instansi Terkait