class="wp-singular post-template-default single single-post postid-246035 single-format-standard wp-custom-logo wp-theme-detak-terkini unselectable">

Home / NTT

Selasa, 31 Januari 2023 - 13:09 WIB

Tak Ditangani Dokter, Ibu Ini Pendarahan Hebat dan Meninggal Usai Bersalin

Ruteng – Seorang ibu bernama Kristina Nastrin (25) asal Desa Bangka Ruang, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara Timur(NTT), meninggal dunia akibat pendarahan hebat pasca persalinan.

Kejadian naas itu terjadi di Puskesmas Nanu, Rahong Utara, Manggarai, Selasa (24/01/23) sekitar jam 04.00 pagi.

Dari hasil wawancara media ini terhadap suami korban, pada Senin 30 Januari 2023 mengisahkan bahwa pada haru Sabtu tanggal 23 Januari 2023,istrinya meminta suami untuk panggil bidan di Postu ke rumah. Ketika suaminya tiba di Postu, seorang bidan bernama Fis menyuruh suami korban antar korban ke Postu.

“Sekitar pukul 15.00 WITA, saya bersama keluarga mengantar istri saya ke Postu Bangka Ruang. Saat itu, istri saya dalam fase pembukaan ke-7. Namun, pada fase pembukaan ke-8, istri saya merasa kesakitan dan kemudian meminta bidan untuk di bawah ke RSUD Ruteng”, ungkap suami Korban.

Saat itu, bidan mengkonfirmasi ke Puskesmas Nanu via telpon seluler. Namun, salah satu bidan bernama Tika yang menangani korban di Postu meminta suami korban untuk buat surat pernyataan jika hendak bersalin ke Rumah Sakit atau Puskesmas.

Suami korban menolak buatkan surat pernyataan tersebut dengan alasan tidak tau apa maksud dari surat pernyataan tersebut karena bidannya tidak menjelaskan ke suami korban surat pernyataan yang dimaksud.

“Pada pukul 22.00 WITA, istri saya pecah air ketuban dan satu jam kemudian istri saya melahirkan namun bayinya tidak bersuara. Karena bayinya tidak bersuara, satu bidan bersama saya membawa bayinya ke Puskesmas Nanu untuk penanganan selanjutnya karena fasilitas di Postu sangat terbatas”, ungkapnya.

Setibanya di Puskesmas Nanu sekitar pukul 2 dini hari. Namun, bidan yang piket malam saat itu tidak berada di Puskesmas. Sekitar 15 menit kemudian, 3 orang bidannya baru muncul dan langsung menangani bayi.

Selanjutnya, saat bersamaan, ada telpon dari Postu untuk segera jemput istri saya karena infusnya tidak berjalan. Seketika itu, saya dan bayi kami pulang ke Postu. Setibanya di Postu, satu bidan menyuruh saya ambilkan air hangat untuk membersihkan badan istri saya.

Baca Juga :  Diduga Rampas Mobil Milik Konsumen, Adira Finance Terancam Dipolisikan

“Pada saat membersihkan, saat itu juga istri saya mengalami perdarahan hebat. Karena takut, bidan bersama keluarga saya langsung membawanya ke puskesmas Nanu sekitar pukul 03.30 dini hari”, tutur Servan sapaan akrabnya.

Setibanya di Puskesmas,istri saya dibaringkan di tempat tidur, dan sempat meminta oksigen ke bidan. Namun, para bidan malah sibuk mencari urat nadi untuk masukan jarum infus ke tangan istri saya.

“20 menit lamanya di Puskesmas, istri saya lagi-lagi meminta oksigen ke para bidan yang menanganinya, namun ada satu perawat laki-laki sempat mencari oksigen namun tidak ditemukan sama sekali hingga istri saya meninggal. Mirisnya, istri saya sudah meninggal, oksigen baru ditemukan oleh petugas”, Keluh Servan.

Terpisah, Kepala Puskesmas Nanu Ignasius Hurin saat di wawancarai awak media ini, Senin 30 Januari 2023 di ruang kerjanya menjelaskan bahwa pada saat itu, 3 bidan yang bertugas dan satu perawat dibawah bidan kordinator yang menangani pasien bersalin saat itu.

“Kebetulan 3 orang teman yang berdinas malam itu sudah disesuaikan dengan tenaga mereka dan sudah dibagikan sesuai jadwal”, ungkap Ignasius.

Dirinya juga menjelaskan bahwa yang bertanggungjawab dalam hal persalinan itu menjadi tanggungjawab bidan desa selaku yang memiliki sasaran. Namun, kalau pasien rujukan ke puskesmas itu menjadi tanggungjawab teman-teman di puskesmas di bawah kordinasi dokter.

“Untuk kejadian malamnya, saya tidak tau sama sekali. Paginya, baru saya mendapatkan laporan”, tuturnya.

Terkait persoalan yang sudah diberitakan ini, kamu sudah berusaha semaksimal mungkin dalam melakukan penangan pasien. Namun, karena perdarahan 3 jam setelah partus,ini diluar dugaan kami.

Sementara, Apolonia Nina selaku bidan kordinator menjelaskan bahwa pasien bernama Kristina Nastrin masuk ke Postu tanggal 23 Januari 2023 pukul 6 pagi belum ada pembukaan. Jadi, observasinya di Postu bangka ruang.Pasien, lahir pada pukul 12.52 malam. Pasien lahir dengan normal, bayi selamat, berat badannya 3.9 kg panjang badannya 49 Cm.

Baca Juga :  Heboh, Sosok Mayat Ditemukan di Dermaga Kayu Dusun Lenteng

“Pantau 2 jam pospartus, ibu aman-aman saja. Pukul 03.33 subuh terjadi perdarahan hebat di postu bangka ruang dan bidannya langsung antar ke puskesmas”, ungkap Epin sapaan akrabnya.

Mereka tiba di puskesmas pukul 03.50 dan langsung diterima petugas dan melakukan tindakan dengan pasang infus, oksigen dan keteter. Disaat teman-teman melakukan tindakan, pasien kehabisan nafas dalam waktu 5 menit karena terlalu banyak pengeluaran darah,” jelas Epin.

Selain Epin, salah satu bidan TPPK yang bernama viviana Nani yang menangani pasiennya langsung saat itu menjelaskan bahwa pasien dirujuk dari postu bangka ruang ke puskesmas nanu dalam posisi perdarahan hebat dan posisi kesadaran pasien juga sangat menurun.

“Diruangan, pasien langsung kami pasang cairan infus, cek perdarahannya dan kami cek kontraksinya masih baik. Tapi, setelah 5 menit kemudian pasien meninggal”, ungkap Vis sapaan akrabnya.

Mirisnya, 3 orang bidan TPPK yang menangani pasien perdarahan ini tanpa didampingi dokter dan tidak memberitahu ke dokter bahwa ada pasien perdarahan di puskesmas.

“Memang sebelumnya, kalau ada pasien kritis,kami selalu konsultasi ke dokter dan dokter juga yang melakukan penanganan”, tutur Vis.

Sementara itu juga, Kartika Mayangsari selaku bidan desa yang menangani persalinan Kristina di Postu bangka ruang menjelaskan bahwa pasien masuk ke Postu bangka ruang pada hari senin tanggal 23 Januari 2023 pukul 06 pagi dengan keluhan sakit pinggang dan perut mules karena mau melahirkan.

“Sekitar pukul 3 sore, saya sempat KIE pasien untuk rujuk ke puskesmas, namun keluarga tidak bersedia. Kalau pasiennya sempat meminta saya untuk rujuk Rumah sakit”, ungkap Tika.

Sekita 3 jam pospartus, pasien mengalami perdarahan dan kami langsung rujuk ke puskesmas nanu. Setibanya di puskesmas, kondisi pasien sangat menurun sehingga kami langsung memasang infus dua jalus,oksigen dan keteter.

“Kami sempat juga melakukan KIE pasien untuk di rujuk ke RSUD Ruteng. Namun, 5 menit kemudian pasien meninggal”, tuturnya.**

 

Share :

Baca Juga

NTT

Ketua PKN Menilai Kualitas Mega Proyek Infrastruktur di Mabar Sangat Buruk

Berita

PLTS Messah Milik PLN Pukau Delegasi G20 saat Memanen Terik Surya

NTT

Sambut Hari Sumpah Pemuda, KLC Gelar Diskusi Publik Soal Pariwisata dan Polri

Berita

Polres Manggarai Gelar Kegiatan Anjangsana Bhayangkara Ke 76 Dan HKGB ke-70 tahun 2022

NTT

Ketua FORMAPP Mabar Minta Presiden RI Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi di G20

Berita

Presiden Jokowi Tinjau Proyek Pengembangan Sarana Hunian di Labuan Bajo

NTT

Akibat Ulah BPN Mabar dan PT Mahanaim Group, Tanah Warisan Anggota TNI Diduga Dirampas

NTT

PKN Mabar Menilai Adanya Kejanggalan Proyek Irigasi Wae Sar
error: Content is protected !!