Telaga Air Merah, Dari Bekas Waduk PDAM Terlantar Menjadi Berkah Wisata Alam Di Desa

- Jurnalis

Senin, 22 September 2025 - 22:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meranti– Di balik rimbunnya pepohonan di Dusun Tanah Merah, Desa Tanjung, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. terdapat sebuah Telaga yang menyimpan kisah tentang perubahan, harapan, dan keindahan alam serta sejuknya angin di kampung.

Tak ada yang menyangka, berkat kegigihan dan kolaborasi Telaga warisan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Pemkab Bengkalis yang bertahun tahun terbengkalai itu. Ditangan sekelompok pemuda desa Tanjung, Pada tahun 2018 silam berhasil di sunglap menjadi objek wisata bernama Telaga Air Merah .

Nama itu bukan tanpa makna. Warna air telaga ini tampak kemerahan, menyerupai warna teh, akibat fenomena alami yang terbentuk dari interaksi tanah gambut dan senyawa organik tumbuhan sekitar. Inilah ciri khas yang membuatnya unik dan menjadi daya tarik tersendiri ditambah lagi dengan beragam wahana.

Bermodal tekat yang kuat hanya membutuh waktu satu tahun untuk menyulapnya menjadi objek wisata. Tidak hanya menawarkan keindahan telaganya, sejumlah fasilitas terus di benahi. Sebagai daya tarik tambahan bagi pengunjung di Telaga Air Merah ini sering mengadakan kegiatan tahunan seperti Lomba Pacu Sampan dan Kemah Budaya, ini upaya melestarikan budaya lokal dan mempererat tali silaturahmi antar masyarakat.

Pada Selasa, 16 September 2025, PT Imbang Tata Alam (ITA) mengajak wartawan melakukan Field Trip dan peliputan di kawasan wisata ini. Rombongan berkumpul pukul 9 pagi di Kota Selatpanjang, sebelum menempuh perjalanan sekitar 17 kilometer menuju Dusun Tanah Merah dengan sepeda motor, memakan waktu 30–40 menit.

Setiba di lokasi, rombongan disambut hangat oleh pengelola yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan BUMDes Tanjung Mandiri.

“Selamat datang di Telaga Air Merah,” sapa Selamat Riyadi, ketua BUMDes, sambil menyalami rombongan satu per satu.

Selamat, yang didampingi Kepala Desa Tanjung, Muhammad Anas, kemudian menceritakan awal berdirinya lokasi wisata ini. Semuanya bermula pada 2018, ketika sekelompok pemuda desa berniat memanfaatkan waduk PDAM yang terlantar dan dipenuhi semak belukar. Tiap minggu, mereka bergotong royong membersihkan lokasi, mengayunkan sabit, menyingkirkan kayu dan tanaman liar yang menutupi permukaan Telaga.

“Tak terhitung peluh keringat untuk membuka kawasan ini. Telaga ini dahulu hanya terlihat lima meter karena tertutup tanaman air. Belum lagi goresan di badan karena tersabit sabit,” ujar Selamat.

“Kami tidak ada yang digaji. Semua dikerjakan secara sukarela,makanan pun hanya roti kering dan air putih dari rumah,” tambahnya.

Pada 12 Juni 2020, Telaga Air Merah resmi dibuka untuk wisata. Namun pandemi Covid-19 membatasi kunjungan, sehingga lokasi lebih sering tutup daripada dibuka. Meski begitu, semangat pemuda desa tidak pernah padam. Mereka terus merawat lokasi, membersihkan sampah, dan berdiskusi untuk memajukan Telaga Air Merah.

Dari pantauan awak media , kawasan wisata ini terlihat asri dan bersih. Pondok-pondok dibangun di sekeliling telaga untuk tempat beristirahat. Sebuah pohon beringin setinggi lebih dari 15 meter berdiri tegak di sisi barat telaga, dengan akar yang terjuntai ke bawah, seolah memeluk tanah dan air. Pemandangan ini menambah kesan magis dan eksotik dari Telaga Air Merah.

Selain keindahan alam, pengelola menambahkan berbagai fasilitas permainan keluarga, seperti bebek ontel, sampan, mandi bola, kolam renang, hingga karaoke. Tiket masuk sebesar Rp 5.000 sudah termasuk parkir. Untuk permainan bebek ontel, pengunjung membayar Rp 15.000, dan sampan Rp 10.000.

Tidak hanya itu, pengelola juga menyediakan beberapa lapak untuk berdagang, sehingga warga setempat turut merasakan dampak ekonomi dari lokasi wisata ini.

“Alhamdulillah kami berhasil memberikan pemasukan untuk desa sejak 2022. Awalnya Rp 19 juta, meningkat menjadi Rp 21 juta, dan tahun lalu Rp 52 juta. Untuk 2025, baru akan ketahuan setelah tutup buku akhir tahun,” ujar Selamat Riyadi.

Keberadaan Telaga Air Merah kini makin dikenal, dan Desa Tanjung pun ikut terdongkrak namanya di Kepulauan Meranti. Penyebaran informasi melalui media sosial turut membantu memperkenalkan lokasi wisata ini ke masyarakat luas.

CSR Coordinator PT Imbang Tata Alam, Arip Hidayatulloh, menambahkan, perusahaan turut mendukung pembangunan lokasi wisata, termasuk memperbaiki akses jalan agar lebih nyaman dilalui. PT ITA juga menjadi sponsor tunggal Lomba Pacu Sampan yang digelar setiap awal tahun. Mulai tahun depan, agenda tersebut akan dikembangkan menjadi Festival Telaga Air Merah, dengan kegiatan yang lebih luas dan meriah.

“Kami masih berdiskusi dengan pengelola terkait bentuk kegiatan tersebut. Tujuannya agar Telaga Air Merah makin dikenal dan memberi manfaat bagi warga desa,” kata Arip.

Dalam kegiatan kunjungan, para wartawan diajak diskusi secara lesehan di bawah pohon beringin, sambil mendengar penjelasan dari pengelola tentang sejarah, pengelolaan, dan pengembangan kawasan wisata. Sesi ini terasa hangat dan humanis, memberikan kesempatan bagi wartawan untuk bertanya dan berdialog langsung. Setelah diskusi, rombongan menikmati makan siang bersama di pondok-pondok teduh yang mengelilingi kawasan telaga. Beberapa wartawan bahkan terlihat mencoba permainan bebek ontel dan sampan, menambah keseruan perjalanan lapangan.

Yasmin Aliyah Siregar, seorang pengunjung yang turut menemani rombongan wartawan dari Selatpanjang, mengaku kagum dengan kegigihan pemuda Desa Tanjung.

“Saya sangat terinspirasi melihat pemuda Desa Tanjung. Mereka tidak kenal lelah mengubah kawasan yang mati menjadi produktif, sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan edukasi bagi warga,” ujarnya.

Telaga Air Merah kini bukan hanya destinasi wisata, tetapi simbol ketekunan, gotong royong, dan semangat membangun desa. Dari waduk terlantar, ditumbuhi semak belukar, menjadi telaga yang indah dan fasilitas lengkap, dikelola oleh pemuda desa yang penuh dedikasi. Keberhasilan ini membuktikan bahwa sebuah komunitas kecil bisa mengubah potensi alam menjadi sumber ekonomi, pendidikan, dan rekreasi bagi masyarakat luas, tanpa kehilangan nilai alam dan keaslian lingkungan.

 

Reporter: Tommy

Follow WhatsApp Channel www.liputankepri.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bea Cukai Tembilahan Musnahkan Barang Ilegal Senilai Rp8,3 Miliar
APBD Kepulauan Meranti 2026 Disahkan Rp 1,162 Triliun
Bupati Asmar Buka Perkemahan Besar III Pramuka Meranti, Tegaskan Pramuka Pilar Generasi Mandiri
Bupati Asmar Ajak Perkuat Hak Anak Penyandang Disabilitas
Bupati Asmar Sampaikan Jawaban Padum Fraksi DPRD Meranti
Wabup Muzamil Sampaikan RAPBD 2026, Prioritaskan Pelayanan Publik dan Infrastruktur
Meranti Peringati Hari Pohon Sedunia dengan Gerakan Tanam Ribuan Pohon
Pertama di Meranti, KDMP Banglas Resmi Beroperasi

Berita Terkait

Rabu, 17 Desember 2025 - 19:43 WIB

Bea Cukai Tembilahan Musnahkan Barang Ilegal Senilai Rp8,3 Miliar

Jumat, 28 November 2025 - 17:35 WIB

APBD Kepulauan Meranti 2026 Disahkan Rp 1,162 Triliun

Kamis, 27 November 2025 - 10:45 WIB

Bupati Asmar Buka Perkemahan Besar III Pramuka Meranti, Tegaskan Pramuka Pilar Generasi Mandiri

Rabu, 26 November 2025 - 17:36 WIB

Bupati Asmar Ajak Perkuat Hak Anak Penyandang Disabilitas

Selasa, 25 November 2025 - 11:39 WIB

Bupati Asmar Sampaikan Jawaban Padum Fraksi DPRD Meranti

Berita Terbaru