Oleh : Indah Catur Listyorini,S.Pd
Guru Bahasa Inggris SMK Muhammadiyah 01 Keling Jepara
Kemahiran berbicara merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa yang ingin dicapai dalam pengajaran bahasa modern termasuk bahasa inggris. Berbicara merupakan sarana utama untuk membina saling pengertian, komunikasi timbal balik, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.
Kegiatan berbicara didalam kelas bahasa mempunyai aspek komunikasi dua arah, yakni antara pembicara dengan pendengarnya secara timbal balik. Dengan demikian latihan berbicara harus terlebih dahulu didasari oleh :(1) kemampuan mendengarkan, (2) kemampuan mengucapkan, dan (3) penguasaan (relatif) kosa kata dan ungkapan yang memungkinkan siswa dapat mengkomunikasikan maksud atau fikirannya.
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa latihan berbicara ini merupakan kelanjutan dari latihan menyimak yang didalam kegiatannya juga terdapat latihan mengucapkan. Target yang hendak dicapai dalam hal ini adalah kemampuan dan kelancaran berbahasa lisan atau berbicara lisan ( berkomunikasi ) langsung sebagai fungsi utama bahasa, khususnya bahasa inggris. Sebab prinsip dalam Teaching Speaking ialah Teach The Language, Don’t Teach Only About The Language. Berbicara merupakan sarana utama untuk membina saling pengertian, komunikasi timbal balik, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.
Kegiatan berbicara didalam kelas bahasa mempunyai aspek komunikasi dua arah, yakni antara pembicara dengan pendengarnya secara timbal balik. Dengan demikian latihan berbicara harus terlebih dahulu didasari oleh :(1) kemampuan mendengarkan, (2) kemampuan mengucapkan, dan (3) penguasaan (relatif) kosa kata.
Secara umum tujuan latihan berbicara untuk tingkat pemula dan menengah ialah agar siswa dapat berkomunikasi lisan secara sederhana dalam Bahasa Inggris. Oleh karena itu, dalam pembelajarannya harus mampu menggugah dan memotivasi siswa untuk berbicara dan mempunyai keberanian untuk mempraktikkannya.
Pelajaran Bahasa Inggris selalu dinamis, atraktif dan kontekstual terutama pada aspek speaking. Dalam aspek speaking, secara tidak langsung membangun keterampilan berkomunikasi siswa.
Untuk terampil berkomunikasi Bahasa Inggris dibutuhkan rasa percaya diri. Kepercayaan diri dapat terbangun melalui latihan dengan interaksi bersama lingkungan sosial di sekolah maupun di kelas. Satu hal yang menjadi catatan dan tak dapat dihindari, kemampuan yang satu ini masih menjadi salah satu kunci sukses dalam studi dan kesempatan karir yang lebih luas.
Namun sayangnya membangun kesadaran speaking di kalangan peserta didik ternyata tidak mudah. Apalagi jika di lingkungan belajar yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Hal ini kemudian yang menyebabkan Bahasa Inggris masih terdengar awam dan dianggap gaya bicara yang snobbish (sombong), kendati kita sudah masuk pada era milenial kedua dan era revolusi industri 4.0.
Realita ini masih terjadi. Kondisi kontradiktif ini yang mempengaruhi siswa tidak percaya diri dalam Bahasa Inggris lantaran sinisme lingkungan belajar yang menganggap mereka tampil beda dari kelompoknya. Sehingga peserta didik cenderung memilih zona aman, tidak berbahasa Inggris supaya tidak dibully baik dalam pergaulan maupun saat proses KBM di kelas.
Pengalaman ini terjadi pada penulis ketika mengajar di kelas XI SMK Muhammadiyah 01 Keling. Kelas ini sangat antusias dan menyenangi materi Bahasa Inggris tetapi masih dalam tataran menulis dan memahami teori. Pada aspek speaking mereka terhambat oleh rasa percaya diri.
Hal ini terjadi karena ketika praktik Bahasa Inggris sering dibully dan beragam sinisme dari teman-teman sekelas. Contoh sederhana ketika dalam proses KBM, jika terdapat siswa yang mampu bertanya atau pun menjawab dalam Bahasa Inggris, selalu terdengar komentar sinis dari teman-teman sekelas sendiri. Bisa jadi komentar tersebut bermaksud candaan, tetapi tetap saja reaksi negatif terhadap upaya teman lain yang sedang belajar Bahasa Inggris dapat dikatakan toxic.
Dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan racun dalam proses KBM. Tentu saja situasi ini tidak sehat dan menghambat peserta didik untuk tumbuh secara keilmuan. Pendidik sebagai fasilitator harus segera mencari solusi untuk mengendalikan situasi kelas yang semacam ini.
Sepintas terdengar lucu tetapi jika situasi ini berlanjut akan mematikan semangat peserta didik yang lain. Sikap dan perspektif peserta didik yang demikian tidak dapat dibiarkan. Untuk membumikan Bahasa Inggris yang dianggap eksklusif dan snobbish, penulis mengaplikasikan ORAI.
Orai adalah sebuah aplikasi untuk membantu semua orang mengembangkan keterampilan berbicara, khususnya berbicara dalam bahasa Inggris. Orai memberikan wawasan real-time dan umpan balik yang dapat ditindaklanjuti tentang konten dan pengiriman Anda, sehingga Anda dapat berlatih dan meningkatkan cara Anda berkomunikasi.
Orai Pro saat ini sedang dikembangkan untuk organisasi perusahaan dan lembaga pendidikan. Menurut Danish Dhamani (93:2019) penggunaan aplikasi ORAI pada siswa dapat disusun sesuai denagn langkah pembelajaran yang ada. Bisa disesuaikan apakah proses pembelajaran luring atau daring. Karena aplikasi ini sangat fleksibel dan mudah digunakan bagi siswa dan guru.
Dalam metode kolaboratif penggunaan aplikasi ini bisa dibentuk seperti; siswa dapat 1) dibagi menjadi beberapa kelompok, 2) tiap kelompok membuat cerita sesuai dengan tema Kompetensi Dasar, 3) kemudian menceritakan kembali thema yang telah ditentukan dimana itu yang mengharuskan mereka mengaplikasikan pengetahuan, keterampilan, atau pemahaman mereka ketika mereka berbicara dan memerankannya dari perspektif yang berbeda.
Orai adalah sebuah aplikasi untuk membantu semua orang mengembangkan keterampilan berbicara, khususnya berbicara dalam bahasa Inggris. Dalam konteks siswa milenial yang jarang lepas dari telepon pintarnya, aplikasi ini bisa membantu mereka berlatih berbicara dan/ atau menjadi pembicara publik dalam bahasa Inggris yang lebih baik.
Aplikasi Orai memberi kesempatan mereka berlatih berbicara berulang-ulang dengan umpan balik instan. Mereka akan diberitahu apakah mereka berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat. Apakah terlalu banyak jeda atau kata-kata ‘err’, ‘emm’, ‘what is it’, dan seterusnya.
Selain itu, semua kekurangan ditampilkan dalam transkrip yang kita sampaikan secara lisan sebelumnya. Orai juga memberi informasi tambahan pada siswa, seperti semangat – apakah terlalu bersemangat atau terlalu monoton. Hal lain yang diberikan juga adalah kejelasan ucapan dan pelafalan serta ringkasan hasil bicara mereka.
Orai memberi beberapa fitur yang didesain mengasah keterampilan berbicara siswa, yaitu Lessons, Practice, Progress, dan Recordings. Masing-masing fitur utama memiliki konten yang menarik dan bisa dipelajari berulang-ulang untuk mengasah kemampuan berbicara ini. Di fitur ‘Lessons’, mereka yang ingin berlatih berbicara bisa belajar dan melatihkan kemampuan berbicaranya pada konten-konten yang diberikan. Masing-masing konten terdiri dari tiga tahapan konten yang harus diselesaikan sebelum bisa mempelajari konten pelajaran selanjutnya.
Konten pertama dalam fitur Lessons adalah Control Your Pace yaitu melatih murid-murid mengontrol kecepatan berbicara mereka. Konten selanjutnya adalah Fight Your Fillers untuk melatih mereka mengurangi kata-kata yang tak perlu, seperti ‘err’, ‘emm’ dan lainnya. Speak with Clarity adalah konten lanjutan yang menekankan pada latihan untuk menyampaikan ide bicara secara jelas, to the point.
Konten berikutnya adalah Vary Your Energy yang melatih mereka untuk tahu kapan berbicara dengan energik dan kapan tidak. Konten selanjutnya fokus pada situasi Interview dimana murid-murid dilatih merespon sebaik-baiknya pada situasi wawancara.
Terakhir, konten Power of the Pause memberi penekanan pada pentingnya melakukan jeda, namun pada saat yang tepat. Seluruh konten ini bisa dicek kemajuannya di aplikasi Orai tersebut.
Guru bisa memberi topik-topik di awal pembelajaran untuk siswa latihkan presentasi. Selama persiapan, siswa diminta berlatih dengan menggunakan Orai dan mencatat semua masukan dari Orai. Diskusi bersama bisa dilakukan untuk memberi ruang siswa merefleksi dan berpikir kritis sambil mengatasi masalah yang ia hadapi.
Diakhir persiapan, siswa diminta pendapatnya tentang Orai dan bagaimana peran Orai dalam keterampilan berbicara mereka. Alternatif lain pemanfaatan Orai bisa lintas sekolah bahkan lintas negara. Sehingga masukan bisa semakin kaya dan membantu siswa berjejaring meluaskan lingkup diskusinya
Konsep panggunaan aplikasi ORAI ini sangat efektif membuat kelas menjadi atraktif dan meningkatkan rasa percaya diri siswa.
Karena dalam proses ini setiap siswa dituntut bicara sehingga tidak ada kesempatan menghindar. Mereka akan merasakan pengalaman proses belajar bicara yang membuat mereka tidak lagi sinis terhadap teman-teman mereka. Yang terjadi, banyak siswa tersipu mentertawakan diri mereka sendiri karena merasa banyak membuat kesalahan.
Tanpa mereka sadari, mereka percaya diri bicara di depan kelas. Suasana kelas menjadi hidup. Mereka lupa siapa yang sombong karena tiap anak akan tampil “sombong” menceritakan sesuatu. Mengesankan dan menantikan kelas berikutnya.***








