Mengapa Ular Piton Menelan Manusia? Ini Penjelasan Ilmiahnya

- Jurnalis

Sabtu, 1 April 2017 - 22:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Liputankepri.com, Mamuju – Dunia dikejutkan dengan insiden ular piton yang menelan manusia dewasa berusia 25 tahun. Insiden ini terjadi di Provinsi Sulawesi Barat, Indonesia pada 26 Maret 2017.

Sangat mengejutkan hingga muncul banyak pertanyaan tentang insiden itu. Bagaimana bisa?

 Pertama-tama, adalah sebuah fakta ilmiah bahwa ular piton dapat tumbuh sepanjang 7 meter. Hal ini merupakan fenomena wajar untuk jenis ular pelilit seperti piton.

Panjang ukuran tubuh berkorelasi dengan kekuatan daya lilitan seekor ular. Semakin panjang ukurannya, akan semakin kuat daya lilitan piton terhadap mangsanya.

Piton Sulawesi Barat berukuran 14,85 meter, sehingga masuk akal ia mampu melilit manusia dewasa. Namun, komunitas akademik masih tak percaya piton mampu menelan manusia.

Untuk menelan manusia ke dalam perutnya, ular piton harus mampu menghancurkan terlebih dahulu tulang belikat manusia.

“Ular piton memang eksklusif mengonsumsi mamalia, dan terkadang reptil seperti buaya,” tambah Low.

Ular mampu menelan mangsa yang lebih besar seiring dengan pertumbuhan tubuhnya. “Semakin besar tubuhnya, semakin besar mangsanya,” imbuh Low.

Pada beberapa kasus, ular piton turut memangsa hewan dengan ukuran dua kali lipat lebih besar dari ukuran tubuhnya.

Sapi atau babi adalah salah satu contoh hewan besar yang mampu ditelan ular piton. Namun, menelan manusia bukan kebiasaan hewan melata tersebut.

Kasus di Sulawesi Barat Jadi yang Pertama?

Hanya kasus-kasus tertentu ular menelan manusia, itu pun bukan ular besar dengan mangsa besar pula seperti di Sulawesi Barat. Lalu, apakah insiden Sulawesi Barat adalah yang pertama?

Bisa ya, bisa tidak.

Kasus di Sulawesi Barat mungkin menjadi yang pertama di dunia dengan bukti dokumentasi visual yang sangat riil dan terverifikasi. Pada era digital, semua orang mampu dengan mudah mendokumentasikan kejadian dan menyebarluaskannya di dunia maya serta media sosial.

Tapi itu bukan kasus pertama dalam sejarah manusia.

Hasil penelitian Thomas Headland, Antropolog kawakan, menjelaskan bahwa Suku Agta–sebuah suku etnik di pedalaman Filipina–mengklaim anggota sukunya kerap kali diserang ular piton.

Namun di peradaban modern, insiden tersebut sangat jarang terjadi. Jika ada, insiden itu dapat dikategorikan sebagai bentuk pertahanan diri si piton.

Ahli ular dari Universitas Brawijaya, Indonesia, Nia Kurniawan menjelaskan kepada BBC bahwa ular piton sangat sensitif pada getaran, suara, dan panas yang dipancarkan dari lampu.

Tiga aspek itu yang membuat biasanya ular menjauhi lokasi yang ditempati manusia. Namun, ular punya daya ingat yang baik terhadap lokasi berburunya.

“Mungkin saja korban naas berada di wilayah berburu ular piton itu,” ujar Nia Kurniawan kepada BBC.

 

 

Source:Liputan6.com

Follow WhatsApp Channel www.liputankepri.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolsek Tambang Dinginkan Aksi Spontan Wali Murid Demontrasi di SD N 02 Desa Tarai Bangun
Pemkab Kepulauan Meranti Luncurkan Buku Muatan Lokal Budaya Melayu Riau untuk SD dan SMP
Bendahara Dana BOS yang Berstatus ASN Terima Honor Sebesar Rp230 Juta
Polsek Sungai Apit Gelar Sosialisasi Bahaya Narkoba & Police Go To School, Tanamkan Semangat Green Policing di Kalangan Pelajar
Program Pemali Boarding School PT Timah Bantu Tingkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia
PT Timah Tbk Tingkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Beragam Program Pendidikan
PT TIMAH Tbk Dukung Pengembangan Profesional Guru Melalui Program Timah Mengajar
Cerdaskan Generasi Bangsa, PT Timah Bantu Sarana Belajar SDN 21 Gantung

Berita Terkait

Rabu, 12 November 2025 - 19:42 WIB

Kapolsek Tambang Dinginkan Aksi Spontan Wali Murid Demontrasi di SD N 02 Desa Tarai Bangun

Selasa, 30 September 2025 - 12:53 WIB

Pemkab Kepulauan Meranti Luncurkan Buku Muatan Lokal Budaya Melayu Riau untuk SD dan SMP

Kamis, 11 September 2025 - 07:50 WIB

Bendahara Dana BOS yang Berstatus ASN Terima Honor Sebesar Rp230 Juta

Jumat, 8 Agustus 2025 - 13:08 WIB

Polsek Sungai Apit Gelar Sosialisasi Bahaya Narkoba & Police Go To School, Tanamkan Semangat Green Policing di Kalangan Pelajar

Selasa, 4 Februari 2025 - 20:12 WIB

Program Pemali Boarding School PT Timah Bantu Tingkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia

Berita Terbaru