Tembilahan – Seputar pemberitaan lalu bahwa Dinas Sosial diduga tidak melakukan pengawasan dalam penyaluran program bantuan BSP (Bantuan Sosial Pangan) pada masyarakat kian membesar.
Pasalnya, ada oknum-oknum di Dinas Sosial yang malah menyalahkan pers dalam mengungkapkan fakta yang terjadi di lapangan. Ironisnya, Staf Dinas Sosial yang menjadi Supervisor Program BSP, Junaidi terkesan menghardik dan mengajari wartawan seputar apa yang terjadi selama ini.
“Hati-hati membuat pernyataan ya !!!” tulis Junaidi pada wartawan ketika konfirmasi. Anehnya adalah ketika rekan pers bertanya, toh dia yang membuat pernyataan.
Padahal wartawan ingin menanyakan bahwa benarkah tidak ada pengawasan dalam penyaluran beras oleh Agen E Warung selama ini serta bagaimana menetapkan beras yang berkualitas untuk masyarakat. Junaidi dan pihak Dinsos ngotot agar kalimat iya atau tidak itu bisa dijawab hanya di kantor. Ada apa ?
Karena semenjak program ini diluncurkan dan ditangani pihak Dinsos Inhil, kerapkali informasi miring terjadi di lapangan. Masyarakat penerima hanya berkeluh kesah sesamanya, tanpa berani mempermasalahkannya. Seandainya, mereka diberikan tidak sesuai porsi sekalipun, mereka tetap diam saja walau ada ketidakbenaran di dalamnya.
Dikonfirmasi ulang pada Selasa, 20 Oktober 2020, Supervisor BSP Dinsos Inhil menyebutkan bahwa katanya semua yang dilakukan sudah sesuai ketentuan umum Sembako dari Kementerian Sosial dalam pemberian bahan sembako pada KPM dengan mengutamakan kearifan lokal untuk peningkatan ekonomi petani setempat.
Wartawan mempertanyakan apakah Dinsos Inhil tetap memberikan beras tersebut yang di dalamnya ada dugaan permainan harga demi keuntungan Agen E Warung.
Junaidi bahkan berani berpendapat bahwa daftar harga per E Warung ada di tempel di setiap E Warung saat penyaluran. Ia meminta agar berkordinasi dengan pendamping Kecamatan. Namun, jeleknya ia mengajari untuk konfirmasi dulu segala sesuatu sebelum menulis untuk saling menghargai dengan kesan menakut-nakuti wartawan.
Sikapnya bahkan cenderung mengajari pada wartawan untuk menulis ini menjadi sebuah tanda tanya apa yang sedang terjadi pada sosoknya. Wartawan hanya ingin mempertanyakan seputar penyaluran dan harga beras yang diterima masyarakat dalam program BSP tersebut.
Jika memang ada permainan harga serta tidak transparan, tentu menjadi perhatian publik terhadap kinerja Dinsos Inhil sendiri. Disaat situasi Pandemi Covid 19, dimana masih berantakannya bantuan untuk masyarakat terdampak Covid 19 karena tidak sesuai, ditambah lagi dengan program BSP yang dirasa kurang pengawasan.
Kadis Sosial Inhil, Arfan menyampaikan permintaan maafnya atas sikap jajarannya yang arogan. Diakuinya bahwa jajarannya melakukan kesalahan. “Ok, apabila anggota saya arogan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena ini merupakan kekeliruan dan tentunya akan diperbaiki kinerjanya untuk yang akan datang.
Saya sangat intens terhadap pekerjaan yang dibebankan dan tentunya tidak ada yang bermain-main apalagi untuk kepentingan masyarakat. Kemudian terima kasih untuk mengingatkan kami, mudah-mudahan kedepan lebih baik lagi,” sebut Kadis Sosial Inhil melalui ponselnya.*
(fithree FJ/red/rls)










