Guru Madrasah Lecehkan Wartawan Dengan Fitnah

- Jurnalis

Kamis, 13 Juli 2017 - 17:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

​liputankepri.com, Selat Panjang – Pelecehan terhadap wartawan terulang kembali, insiden tersebut terjadi saat beberapa awak media melaksanakan tugas liputan aksi damai sejumlah guru honor madrasah, yang memperjuangkan hak mereka terhadap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, Kamis (13/7).

Puluhan guru madrasah di Kepulauan Meranti saat melakukan aksi damai menuntut kesejahteraan. Salah seorang oknum guru sempat melontarkan kata-kata melecehkan profesi wartawan. (foto: zuin)

Syahril, salah seorang oknum guru yang ikut aksi melontarkan kata-kata yang melecehkan profesi wartawan, bahwa wartawan sudah di bayar oleh pemerintah. Beruntung, para kuli tinta ini masih bisa menahan amarah, sehingga pelaku bernama Syahril, terhindar dari amukan wartawan.

Aksi yang didukung LSM Koppas Riau tersebut berlangsung aman dan tertib. Meskipun dari mulut guru agama ini kerap terdengar tudingan yang mengarah fitnah pada Bupati Drs H Irwan Nasir MSi dan Ketua DPRD Kepulauan Meranti H Fauzi Hasan, namun mereka tetap dilayani dengan baik oleh Asisten I Azza Fahroni yang saat itu dipercaya mewakili bupati menemui massa aksi.

Usai berorasi di halaman, seluruh massa aksipun diminta masuk ke ruang melati untuk membahas tuntutan mereka. Pertemuan sempat memanas setelah Jefrizal Jef selaku koordinator (LSM Koppas Riau) dan peserta aksi lainnya bersikeras meminta kepastian Pemkab Meranti tentang hak para guru yang belum dibayarkan.

Karena tidak bisa membuat keputusan, Azza pun terpaksa meminta waktu untuk menghubungi Bupati Irwan yang kebetulan sedang dinas di luar kota. Saat pertemuam diskor, terdengar seorang peserta aksi mengusulkan agar masalah tersebut disampaikan kepada wartawan yang meliput melalui jumpa pers.

Usulan itu malah dibantah Syahril, salah seorang guru Aliyah di Desa Centai, Kecamatan Pulau Merbau. Bahkan, dengan lantang pria berkaca mata itu mengatakan bahwa usulan temannya tidak perlu, karena media telah dibayar.

Pernyataan Syahril spontan membuat awak media geram. Namun, masing-masih berusaha menahan diri. Setelah aksi yang kemudian berlanjut ke DPRD Kepulauan Meranti usai, seluruh wartawan langsung berkumpul sambil mencari guru sombong tersebut.

“Apa maksud perkataan mu tadi. Sekarang, kami minta kau jelaskan di depan umum,” kata Rudi, wartawan riauterkini.com yang didampingi beberapa orang wartawan lainnya sambil menyeret Syahril yang saat itu sempat bersembunyi di kamar mandi.

Mungkin karena bersalah, Syahril pun tak dapat berkata-kata. Apalagi setelah semua wartawan memarahinya. Dengan tergagap-gagap guru sombong tersebut hanya bisa berkata bahwa dirinya hanya bercanda dan langsung meminta maaf. Namun, pernyataannya itu tetap tidak bisa diterima.

Melihat suasana makin memanas, semua yang hadir berusaha menenangkan wartawan. Apalagi ketika ada wartawan yang begitu emosi dan seakan hendak memukuli Syahril. Untunglah semua itu tidak terjadi dan Jefrizal Jef langsung mengangkat kedua tangannya sambil memohon maaf atas nama Syahril.

Menanggapi hal itu, Ketua PWI Kepulauan Meranti, Ahmad Yuliar, sangat menyayangkan pernyataan tersebut. Apalagi pernyataan bernada fitnah itu dilontarkan oleh seorang guru agama yang selama ini selalu mengajarkan akhlak dan etika yang baik kepada peserta didik.

Dia berharap hal serupa tidak terulang kembali oleh pihak mana pun. Apalagi hal semacam itu tidak benar sama sekali.
“Wartawan di lapangan bekerja sesuai kode etik jurnalistik. Bahkan selama ini kita begitu aktif dna jemput bola agar masalah mereka bisa diselesaikan. Kalau memang punya bukti silahkan bawa ke jalur hukum, jangan asal bicara. Guru agama lagi, kan tidak pantas,” ungkap Ahmad Yulizar.

Meski terluka dengan fitnah yang dilontarkan Syahril, Ahmad Yuliar dengan tegas mengatakan bahwa PWI tetap tidak akan membawa kasus tersebut ke jalur hukum. Kebijakan ini juga diambil karena rasa kasihan terhadap Syahril dan guru lainnya yang saat ini sedang memperjuangkan hal mereka.

“Kasus ini benar-benar membuat kawan-kawan terluka. Tapi kita masih bisa mengerti dengan kondisi. Dan ini juga harus menjadi pelajaran kepada Syahril dan pihak lainnya agar jangan asal bicara, sehingga kasus serupa tidak terulang kembali,” ungkap Ahmad. (zuin/riaupotenza)

Follow WhatsApp Channel www.liputankepri.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hidayat Pimpin KONI Meranti Periode 2026-2030, Wabup Muzamil Tekankan Kekompakan dan Prestasi
Hidayat Abdurrahman Kembali Dipercaya Pimpin KONI Kepulauan Meranti Periode 2026-2030
Bhabinkamtibmas Desa Bantar Panen Cabai rawit dukung Ketahanan Pangan
Pesantren Babus Sa’adah Lepas Santri Angkatan VI, PKBM Dewan Dakwah Luluskan Angkatan Pertama
Sekda Kepulauan Meranti Sambut Kepulangan 110 Jamaah Haji di Pelabuhan Tanjung Harapan
Pria di Selatpanjang Ditemukan Meninggal dikamar Penginapan
Yudisium Perdana ITS Meranti, 36 Mahasiswa Resmi Lulus, Wisuda Dijadwalkan Agustus Mendatang
Lewat Program JALUR, Polres Meranti Salurkan Sembako dan Dukung Pendidikan Anak Pesisir

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 09:32 WIB

Hidayat Pimpin KONI Meranti Periode 2026-2030, Wabup Muzamil Tekankan Kekompakan dan Prestasi

Senin, 15 Juni 2026 - 01:18 WIB

Hidayat Abdurrahman Kembali Dipercaya Pimpin KONI Kepulauan Meranti Periode 2026-2030

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:59 WIB

Bhabinkamtibmas Desa Bantar Panen Cabai rawit dukung Ketahanan Pangan

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:03 WIB

Pesantren Babus Sa’adah Lepas Santri Angkatan VI, PKBM Dewan Dakwah Luluskan Angkatan Pertama

Senin, 8 Juni 2026 - 18:17 WIB

Sekda Kepulauan Meranti Sambut Kepulangan 110 Jamaah Haji di Pelabuhan Tanjung Harapan

Berita Terbaru