Liputankepri.com,Meranti- Menanggapi keluh kesah Pemerintah Provinsi Riau saat memasuki musim kemarau untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai mana di umumkan darurat Karhutla untuk daerah oleh Gubernur Riau Syamsuar.
Pengamat lingkungan UIN Suska Riau Elviriadi mengatakan, penanganan Karhutla sebaiknya dilakukan hingga ke akar masalahnya, yakni rehabilitasi lahan gambut yang rusak,Sabtu 27/02/2021.
Ia mengungkapkan, saat ini tengah ada pengrusakan hutan besar-besaran dilahan gambut yang mencapai lebih kurang 7 meter seperti di desa Mengkikip, Kecamatan Tebing Tinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti. Perambahan hutan liar di atas lahan gambut ini berpotensi menjadi karhutla karena hilangnya pohon sebagai resapan air apa lagi disana perambahan hutan dengan pengalian kanal yang bembuat lahan gambut tersebut mengering dan rawan kebakaran.
“Katanya kita mau mencegah karhutla, hendak mencegah asap. Bahkan Kapolda, Kapolres, Dandim mau dicopot kalau tidak bisa padamkan api. Tapi di sisi lain, penyebab penyakitnye tak kita atasi,”kata Elviriadi kemedia ini melalui pesan WahtsApp pribadinya,Jum’at 26/02/2021.
Elviriadi menyarankan pemerintah merawat lahan-lahan yang hampir kritis agar kondisi lahan gambut senantiasa dalam keadaan basah dan diupayakan tidak sampai dalam keadaan kering.
“Kita tidak menyalahkan pemerintah hanya memadamkan api, tapi kita sebagai orang yang mengerti permasalahan gambut ini memandang ada yang belum dikerjakan,” kata dia.
Dia menambahkan, hal yang paling substansial dalam mencegah Karhutla ialah merawat lahan-lahan gambut, dan memantau serta menindak pengrusakan hutan dan lahan gambut.(tm)










