banner 200x200

Home / Featured / Pendidikan

Sabtu, 15 April 2017 - 22:30 WIB

Catatan Sejarah Pulau Penyengat Tanjungpinang

Pulau Penyengat

Sultan Riau Grand Mosque

Penyengat Island atau dalam bahasa Indonesianya adalah Pulau Penyengat. Pulau ini menjadi salah satu objek wisata sejarah andalan dari Propinsi Kepulauan Riau – Indonesia. Penyengat, berasal dari kata “Sengat” yang kononnya pada zaman dahulu pulau yang belum berpenghuni ini disinggahi oleh para nelayan/pelaut untuk mendapatkan air bersih. Suatu saat ada seorang nelayan yang sedang asik mengambil air, entah kenapa nelayan tersebut dikejar oleh sekelompok binatang kecil (seperti lebah) yang memiliki sengat. Nelayan tersebut berlari ketakutan sambil meneriakkan kata2 “Penyengat… penyengat… penyengat”. Sejak saat itu, pulau ini dikenal sebagai pulau Penyengat.

Pulau ini terletak hanya sekitar 6 Km laut atau sekitar 15 menit dari kota Tanjung Pinang. Transportasi yang digunakan dari Kota Tanjung Pinang ke Pulau penyengat adalah perahu motor kecil atau yang lebih dikenal dengan sebutan pompong, pompong tersebut dapat memuat kurang lebih 20-30 orang. Ongkos yang diperlukan untuk sekali jalan Rp 5.000,00. Jika ingin menyewa sebuah pompong dalam sekali jalan dikenakan biaya Rp 50.000,00. Sebagai alat transportasi selama di pulau ini, kita dapat menggunakan becak motor. Becak tersebut ditarik dengan menggunakan sepeda motor. Biayanyapun relatif murah, begantung dari tempat yang ingin kita capai. Jika kita ingin menggunakan jasa becak ini untuk mengelilingi pulau, dikenakan biaya Rp 20.000,00.

Pada masa pemerintahan Sultan Riau, pulau penyengat dijadikan markas pemerintahannya ditanah melayu. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah pada masa lalu. Selain sebagai markas pemerintahan, pulau penyengat juga menjadi benteng terdepan dalam menghadang serangan penjajah Belanda.

Baca Juga :  Gustian Riau Sebut Tak Ada Judi di Arena Gelper di Batam

Sultan Riau yang terkenal adalah Sultan Riau IV dengan gelarnya Raja Haji Fisabilillah. Beliau merupakan pahlawan nasional yang membela tanah melayu dalam peperangan melawan tentara Belanda. Pulau penyengat juga merupakan sebuah mahar (mas kawin) dari Sultan Mahmud yang merupakan keturunan dari Raja Haji Fisabilillah kepada Raja Hamidah a.k.a Engku Putri. Hampir seluruh keturunan raja-raja tersebut dimakamkan dipulau ini. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya makam raja-raja di berbagai tempat dipulau ini.


           Makam Raja-Raja Riau (Kiri), Makam Raja Ali Haji (Kanan)

Selain pahlawan peperangan melawan penjajah Belanda, negeri melayu Riau juga memiliki seorang pahlawan nasional dalam bidang sastra dan bahasa Indonesia. Raja Ali Haji begitulah masyarakat Riau mengenalnya. Raja Ali Haji merupakan pujangga terkenal dengan hasil karyanya Gurindam 12. 12 pasal syair melayu yang berisikan petuah dan ajaran kepada seluruh umat manusia untuk saling hormat-menghormati, toleransi dan berbuat baik kepada sesama. Selain itu juga terdapat pesan-pesan agama Islam yang memberikan ajaran kepada pemeluknya.

Makam Raja Hamidah a.k.a Engku Putri

Sebagai salah satu objek wisata budaya, hal yang dapat dilihat dari Pulau Penyengat adalah keindahan Mesjid Raya Sultan Riau. Mesjid tersebut kononnya merupakan sebuah istana yang dibangun tanpa semen. Bahan utamanya adalah batu bata yang dibuat dari tanah liat dan dilekatkan dengan putih telur. Untuk mewarnai mesjid tersebut digunakan kuning telur. Alhasil mesjid tersebut masih berwarna kuning hingga saat ini. Memang untuk saat ini pengecetan tidak lagi dilakukan dengan menggunakan bahan dasar telur. Penduduk setempat mengatakan bahwa, mesjid tersebut tidak akan pernah penuh walaupun digunakan oleh banyak kalangan untuk melakukan ibadah. Sebagai sebuah istana yang tidah terlalu megah, memang ukuran mesjid ini tidak terlalu besar. Setiap hari jumat banyak wisatawan yang menyempatkan diri untuk sholat dimesjid ini, selain penduduk lokal tentunya.

Baca Juga :  BPJS Kesehatan Bantah Ada Pemangkasan Biaya Persalinan

Benteng Bukit Kursi

Bukti dari pusat pertahanan semasa peperangan dapat dilihat dari adanya sebuah benteng diatas bukit. Benteng tersebut terkenal dengan nama Bukit Kursi. Sebagai sebuah pusat pertahanan, benten ini memiliki beberapa buah meriam yang menghadap kelaut. Meriam-meriam tersebut sangat strategis letaknya, yang setiap saat siap diledakkan jika kapan musuh mendekat.

Balai Adat Pulau Penyengat

Satu lagi peninggalan sejarah yang dapat kita kunjungi adalah Balai Adat. Balai Adat merupakan tempat penyimpanan perkakas-perkakas raja dan tuan putri. Balai ada ini juga memiliki pelaminan tempat dilangsungkannya pesta pernikahan. Menurut masyarakat setempat, dibawah balai ada ini terdapat sebuah sumur yang memiliki mata air jernih dan dari dahulu hingga sekarang ukuran airnya tidak pernah berkurang sedikitpun.

Share :

Baca Juga

Featured

Diperiksa KPK, Bupati Meranti Ngaku Tak Kenal Bowo Sidik

Featured

LPPNRI Karimun Minta Dinas PU Awasi Proyek Tanpa Plang Nama

Batam

Tim Disbintalad Gelar Kegiatan Bina Mental Prajurit Raider Khusus 136/TS

Featured

Visi Misi Liputankepri.com

Featured

Peringati Isra’ Miraj, Bupati Meranti Himbau Galakkan Pembangunan Masjid

Featured

Endri Sanopaka: Ranperda Perubahan Tunjangan DPRD Kepri Dikebut Dalam Satu Hari

Featured

Perbaikan Pelabuhan Domestik Karimun Sudah Selesai

Featured

Anggota DPRD Jadi Sasaran Amuk Geng Motor
%d blogger menyukai ini: