Oleh : NORPIKA,S.Pd
Guru Matematika di SMP Negeri 2 Meral Barat
Siapa yang tidak suka online? Siapa yang tidak suka bermedsos? Sebelum masa pandemic covid-19, semua aktivitas orang tidak bias lepas dari internet dan media sosial. Sudah menjadi pandangan umum bermedia social merupakan gaya hidup semua orang. Dalam hitungan berapa detik setiap orang selalu melihat gawai? Seolah manusia modern tidak bias hidup tanpa gawai.
Lebih-lebih di dunia pendidikan. Penggunaan gawai dan media social kini tidak bias lepas dari aktivitas belajar mengajar sehari-hari di kalangan pendidik dan siswa. Seiring dengan itu pula, tanpa terasa masa pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sudah memasuki bulan kesebelas sejak diumumkannya peraturan pemerintah tentang belajar dalam jaringan di bulan Maret 2020.
Pertanyaan selanjutnya, apakah para siswa menikmati suasana belajar yang serba online dan terus-menerus bermedsos? Ternyata jawabannya tidak. Banyak diantara para siswa mengalami kejenuhan dalam PJJ ini. Hal ini juga terjadi di kelas IX SMP Negeri 2 Meral Barat yang masuk pada angkatan Tahun Pelajaran 2020/2021.
Apakah kejenuhan yang dialami para siswa ini pengalaman yang wajar? Tentu saja wajar. Bagaimana tidak, dari sisi siswa, mereka harus mulai menyimak secara online setiap materi dari satu guru ke guru berikutnya. Sebelum online masuk ke materi pelajaran di pagi hari, pada sore harinya hingga malam hari, mereka harus standby dengan banyaknya grup WhatsApp mata pelajaran yang berbeda-beda.
Apa yang mereka lakukan? Mereka harus mengikuti setiap pengumuman dan menyelesaikan tugas-tugas dari para guru. Jika tidak mereka lakukan, sudah dapat dipastikan mereka akan ketinggalan informasi dan tugas sehingga berpengaruh pada presensi dan nilai mereka.
Lantas apa yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik untuk mengatasi sistuasi yang tidak mudah ini? Menilik teori seorang ahli pendidikan,Nana Syaodih Sukma dinata (2007: 206-207) yang pro tekhnologi dalam pendidikan mengatakan,e pada e-learning tidak hanya singkatan dari electronic sajaakan tetapi merupakan singkatan dari experience (pengalaman), extended (perpanjangan), dan expended (perluasan).
Dari kata experience tersebut dapat membuka kesempatan yang luas dan variatif bagi seluruh siswa untuk belajar, disesuaikan dengan kesediaan waktu; tempat; cara; bahan; maupun lingkungan yang tersedia. Extended bermakna memperpanjang dan memperluas kesempatan belajar bagi siswa, tidak terbatas pada program-program tertentu tetapi merupakan proses yang berkelanjutan sepanjang hayat.
Expanded memiliki arti pembelajaran terbuka bagisetiap orang, bahan dan topic yang dibahas kemudian menjadi lebih luas sehingga pembelajaran tidakakan terbentur pada ketersediaan dana.
Dari konsep e-learning tersebut, kemunculan dan pemanfaatan tekhnologi Microsoft Teams bagi siswa menjadi atmosphere baru di tengah jenuhnya belajar online. Fitur yang lengkap nan praktis dan berbagai emoticon yang lucu, sangatlah sesuai dengan karakter remaja generasi Z saat ini. Tidak memerlukan kuota yang tinggi dan siswa dapat berkomunikasi dengan guru lebih rileks, intim dan tidak membosankan.
Pada akhirnya dan bagaimanapun juga, kita memang tidak bisa menolak PJJ untuk sementara ini. Salah satu hal yang bias diupayakan untuk mengatasi kejenuhan siswa bias menggunakan aplikasi teknologi yang menyenangkan untuk siswa.
Microsoft Teams sangat menarik digunakan oleh siswa dalam mempelajari materi pembelajaran karena dengan teknologi ini mereka dapat belajar secara fleksibel dimanapun dan kapanpun dibutuhkan.
Materi yang kurang dipahami oleh siswa ketika tatap muka secara online dapat dipelajari kembali melalui Microsoft Teams sehingga akan lebih memudahkan siswa untuk memahami materi dengan lebih banyak waktu karena tidak terbatas seperti ketika tatap muka online.***










