class="post-template-default single single-post postid-1421 single-format-standard wp-custom-logo elementor-default elementor-kit-37444">

banner 200x200

Home / Batam / Featured

Kamis, 8 September 2016 - 20:18 WIB

Prostitusi dan Dunia Malam Tumbuh Subur di Batam

“Pada umumnya mereka dijebak dan menjadi korban perdagangan manusia. Ada yang sengaja datang ke kampung-kampung di Jawa yang tergolong miskin. Kemudian orang tuanya dibujuk dikasih uang dan anak mereka dijanjikan bekerja di toko atau salon tetapi justru di jual kepada germo,” terang dia.

 

Liputankepri.com,Batam – Batam merupakan salah satu kota industri di Indonesia. Lewat predikat itu, Batam menawarkan banyak lapangan pekerjaan yang layak bagi masyarakat. Tak cuma sektor industri, di Batam tumbuh subur dunia hiburan malam.

Hiburan malam ini mempekerjakan perempuan dari kampung-kampung. Orang asing dari Singapura dan Malaysia menjadi tuan yang meminta jatah layanan ranjang pada perempuan Indonesia.

Aktifis lembaga pemantau aparatur penyelenggara negara ini angkat bicara atas fenomena kehidupan malam di Batam. Menurutnya banyaknya pekerja asing laki-laki di Batam membuat dunia malam menjadi pilihan hiburan.

“Itu fenomenanya hukum pasar, ada supply ada demand. Orang-orang asing banyak sekali di Batam, mereka tidak bawa istri terutama ekspatriat ini perlu ada hiburan biasanya dengan perempuan dan minum,” kata Andi Acok kepada media ini

Menurutnya para wanita penghibur yang banyak berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa adalah korban human traficking. Mereka awalnya diajak ke Batam untuk bekerja di sektor-sektor informal.

“Pada umumnya mereka dijebak dan menjadi korban perdagangan manusia. Ada yang sengaja datang ke kampung-kampung di Jawa yang tergolong miskin. Kemudian orang tuanya dibujuk dikasih uang dan anak mereka dijanjikan bekerja di toko atau salon tetapi justru di jual kepada germo,” terang dia.

Wakil ketua LPPNRI Karimun ini mengungkapkan perempuan-wanita penghibur di Batam kebanyakan berasal dari tingkat pendidikan rendah. Oleh sebab itu mereka terpaksa bekerja serabutan termasuk menjual diri.

“Problemnya kompleks karena latar belakang pendidikan kurang dan keterampilan pun kurang. Makanya mereka tidak bisa bekerja di sektor formal maupun swasta,” ujar dia.

Maka dari itu,Andi Acok menyarankan agar pemerintah membuat peraturan yang tegas untuk pencari kerja di Pulau Batam yang termasuk daerah Free Trade Zone. Bagi mereka yang sudah terlanjur sebaiknya diberikan keterampilan berwirausaha dan modal usaha.

“Pemerintah harusnya membuat aturan hanya diperkenankan bagi orang-orang yang mempunyai pendidikan dan keterampilan cukup di Batam. Mereka yang tidak punya dan sudah terlanjur mesti diberi keterampilan seperti memasak, menjahit dan keterampilan untuk berdagang. Pemerintah juga harus memberi modal dan bimbingan kepada mereka,” pungkas dia.

[ian]

Share :

Baca Juga

Featured

Fakta Seputar Angin Duduk yang Penting untuk Diketahui

Featured

DPR Sahkan UU Antiterorisme

Batam

Menelusuri Praktik Pencucian Uang Dari Sindikat Narkoba di Kepulauan Riau

Featured

Momen Haru Irjen Iqbal dan Istri Peluk Anak Personel Polairud yang Gugur Dalam Bertugas

Ekonomi

Penilaian Kesehatan Koperasi Harus Sinkron Dengan Perbankan

Batam

Amsakar Buka STQH IX Kecamatan Lubuk Baja, Tanamkan Nilai Al-Qur’an Sejak Dini

Featured

Polresta Pekanbaru Raih Peringkat Pertama Lomba Polmas Award Kapolri Cup 2017

Featured

Dandim 0317/Tbk Bertindak Sebagai Komandan Upacara Dalam Pembukaan Kegiatan TMMD ke-101