class="wp-singular post-template-default single single-post postid-1628 single-format-standard wp-custom-logo wp-theme-detak-terkini unselectable">

Home / Batam / Liputan Kriminal

Jumat, 16 September 2016 - 18:38 WIB

Bareskrim Tangkap Penyelundup Amonium Nitrat Asal Malaysia

“kedua tersangka berperan menentukan kapal pengangkut, waktu pengangkutan dan rute perjalanan laut. Selain itu, kedua tersangka juga berperan menerima pesanan amonium nitrat dari pelanggan dan mengambil pesanan di Malaysia.

 

Liputankepri.com – Batam – Penyidik Bareskrim Mabes Polri menangkap dua orang tersangka dalam kasus penyelundupan amonium nitrat (NH4NO3) asal Malaysia.

“Satu tersangka berinisial Y ditangkap di Batam dan satu tersangka T ditangkap di Muna (Sulawesi Tenggara). Keduanya ditangkap pada 9 September 2016,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Agung Setya, di Jakarta, Jumat (16/9/2016

Kasus ini terungkap berkat koordinasi Bareskrim dengan pihak Bea Cukai.

Awalnya jajaran Bea Cukai menemukan ada tiga kapal yang diduga berisi amonium nitrat. Ketiga kapal yang ditangkap tersebut adalah Kapal ‘Harapan Kita’ pada tanggal 16 April 2016, Kapal “Ridho Ilahi” pada 29 Juli, dan Kapal ‘Ikma Jaya’ pada 29 Agustus.

Ketiga kapal tersebut disergap di wilayah Kepulauan Natuna. Ketiga kapal berikut muatannya disita karena tidak membawa dokumen pengangkutan.

“Kapal-kapal ini bermuatan amonium nitrat. Ini (amonium nitrat) merupakan bahan peledak tunggal,” ungkapnya.

Tiga kapal tersebut diketahui membawa 6.659 karung yang berisiamonium nitrat dengan total bobot 166 ton.

Kemudian polisi berupaya mengungkap sindikat penyelundup bahan tersebut yang pada akhirnya diketahui berada di Batam, Kepulauan Riau.

“Mereka (pelaku) mengambil amonium nitrat di Pelabuhan Pasir, Malaysia,” ucapnya.

Menurut Agung, kedua tersangka berperan menentukan kapal pengangkut, waktu pengangkutan dan rute perjalanan laut. Selain itu, kedua tersangka juga berperan menerima pesanan amonium nitrat dari pelanggan dan mengambil pesanan di Malaysia.

Sindikat ini bekerja berdasarkan pesanan. Usai mengambil barang pesanan di Malaysia, kapal akan menempuh jalur Laut China Selatan, menuju Laut Jawa, Kangean (Madura), Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Flores (Nusa Tenggara Timur), Jeneponto (Sulsel), Pangkep (Sulsel), Bonarate (Sulsel) dan Baubau (Sultra).

Kapal singgah di titik-titik yang dilalui untuk mengantarkan pesanan kepada konsumen. Amonium nitrat dilarang penggunaannya karena bisa digunakan sebagai bahan peledak tunggal yang kerap disalahgunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan di laut.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman maksimal hukuman mati atau hukuman seumur hidup atau minimal 20 tahun penjara.

(put)

Share :

Baca Juga

Berita

Polisi Bekuk Pelaku Pembakar Mobil di Tambusai Utara Riau

Featured

Pasca Penyerangan Walikota Tangerang Perketat Keamanan

Batam

Terpilih Aklamasi, Ita Hayati Nufus Sebagai Ketua DPW Provinsi Kepri

Batam

Jefridin Ajak Pengurus Kalimantan Barat Membangun Batam

Batam

Himpunan Otomotif Batam, Amsakar Dukung Kegiatan Peningkatan SDM

Featured

Polisi Kawal Pemindahan 24 Tahanan ke Lapas Batam

Featured

BNN Buru Penyelundup Sabu Jaringan Internasional Sampai ke Dumai

Batam

Muhammad Rudi Dukung Percepatan Investasi di Bintan
error: Content is protected !!